Senin, 05 September 2016

Suatu hari nanti, kita akan dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar mencintai kita tanpa alasan. Tanpa dusta dan kepalsuan.
Suatu hari nanti, kita akan dipertemukan dengan seseorang yang membiarkan kita menjadi diri sendiri. Tanpa topeng, dan tanpa kepura-puraan.
Suatu hari nanti, akan ada seseorang yang akan membuat kita yakin, bahwa ternyata, dia adalah sebaik-baik pilihan. Yang mampu membuat kita menetap, tanpa sempat berpikir untuk berpindah tempat.

Apa yang kau takutkan dari jarak? Bukankah kita masih berada di bawah langit yang sama?
Bukankah kita masih bisa melipat jarak dengan sama sama saling mendoakan?

Kita selalu butuh jeda, untuk merasakan atau bahkan melepaskan sesuatu.
Rindu terlalu pedih jika hanya dipendam.Rindu terlalu indah jika hanya diucapkan.
Rindu hanya butuh dipertemukan.

Untuk setiap langkah yang telah kita lalui, kamu harus tahu satu hal; aku selalu berusaha untukmu. Entah di masa depan nanti kamu menjadi milik siapa setidaknya kamu harus tahu, bahwa pernah ada satu laki-laki yang sangat ingin bersama'mu sampai akhir.
Mungkin kita hanya berpisah sementara, berjuang bersama meski dipisahkan oleh jarak yang ada. Tapi tak apa, tak ada kekhawatiran, tak ada keresahan. Sebab nanti bila waktunya telah tiba, kau tahu harus kembali pada siapa.
Jangan berlaku sesukanya, saat kamu merasa dicintai olehnya. Mungkin saja kamu lupa, jika ia bisa pergi kapan saja.

Simpan keluhmu dalam diam, jangan biarkan semua orang tau jatuh bangunnya kamu berjuang. Sebab orang lain hanya menilai sebatas apa yang di lihat.
Tahan lelahmu, tegarkan dirimu, dan luahkan semua dalam doa panjangmu.
Akan ada saatnya nanti, kamu tunjukkan kepada mereka jika kamu mampu dan layak diberi ucapan selamat.

Jika diberikan kesempatan kedua, hargailah. Karena itu adalah sebuah anugerah. Jangan sia-siakan. Bisa jadi, itulah kesempatan terakhir yang kita punya.
Yang menyakitkan dari sebuah perpisahan adalah kenyataan bahwa kamu akan menemukan dia yang berbeda di saat perjumpaan yang berikutnya .Terkadang, kau hanya mementingkan egomu sendiri.
Tanpa memikirkan aku yang sering kau sakiti.
Mungkin tuhan sedang menguji kita.
Mungkin juga waktu sedang bermain-main dengan keseriusan kita.
Mungkin saat ini saling menyakiti adalah satu-satunya jalan yang membuat kita bisa bertahan.
Dalam jarak yang bernama perbedaan.

Jika kamu sibuk dengan urusanmu aku akan mengerti.
Jika kamu sibuk dengan teman-teman di sekitarmu aku akan mengerti.
Jika kamu tidak punya waktu untukku aku akan mengerti.
Tapi, jika suatu saat nanti kau temui aku sedang merasa lelah menghadapi itu semua.
Itulah giliranmu untuk mengerti.
Sebab, sekuat-kuatnya hati. Jika di paksa harus mengerti sendirian, pasti akan melelahkan juga.

Jika setiap harapan berjalan sesuai rencana, kita tak pernah belajar bahwa kecewa itu menguatkan.
Terkadang aku suka bertanya-tanya, mana yang lebih melelahkan. Menunggu ataukah mengejar?
Dan nanti, jika suatu saat kamu merasa lelah. Berhentilah sejenak, dan katakan pada dirimu sendiri “jika dia memang milikku semelelahkan apapun itu pasti dia tetap menujuku”. Tidak perlu terlalu memaksakan segalanya.

Orang yang memilih tidak peduli, dulunya  adalah orang yang paling sering mencari.
Orang yang memilih menyerah, dulunya  adalah orang yang mencintai paling tabah.
Orang yang memilih pergi, dulunya adalah orang yang pernah bertahan sekuat hati.

Jika boleh mengulang hari, aku akan mengulang hari di saat kamu sedang cinta - cintanya. Karena saat itu, rasanya aku pernah menjadi seseorang paling beruntung sedunia.

Rasa sakit hati adalah pembelajaran, bahwa cinta sesungguhnya hanyalah milik tuhan.
Mungkin aku menatap terlalu jauh, mungkin aku berharap terlalu tinggi, mungkin aku bermimpi terlalu banyak, hingga ketika aku terjatuh dari semua itu, aku kesakitan.

Kau tahu, apa arti kehilangan yang sebenarnya? Kehilangan yang membuatmu hidup dalam kesedihan karena rasa bersalah yang bisa tiba-tiba muncul. Kehilangan yang bisa membuatmu menyesal tidak bisa melakukan sesuatu yang lebih baik lagi, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi.
Lalu bagaimana jika kau diberikan satu kesempatan untuk melakukan sesuatu agar dia tidak pergi untuk yang kedua kalinya lagi? Apakah kau juga akan mencintainya, seperti dia mencintaimu? Apakah kau juga akan memperioritaskannya? Dan apakah kau akan menyadari betapa berharganya dia?

Jika sama-sama saling cinta seharusnya saling menjaga. Menjaga agar tak ada kecewa, menjaga agar bisa meminimalisir lara. Karena semakin besar rasa sayang terhadap seseorang, semakin tinggi pula harapan kita kepada orang itu, dan akan semakin mudah pula diri kita untuk dikecewakan.
Setidaknya kamu perlu belajar tentang satu hal, yaitu menghargai keseriusan seseorang.

Sebab tidak ada pertemuan tanpa perpisahan, maka sebaik-baiknya kebersamaan ialah saling percaya dan saling mendoakan.
Yang terbaik bukanlah yang datang dengan segala kelebihan. Namun, yang takan pergi karena segala kekurangan.
Yang putih belum tentu bersih, yang hitam belum tentu pahit, yang cuek belum tentu tidak peduli, yang terlihat ceria belum tentu bahagia. Jadi, berhentilah menilai seseorang hanya dari sisi luarnya saja. Barangkali kau melewatkan sesuatu yang luar biasa di dalam diri orang itu, yang hanya bisa kau rasa, melalui hatimu.

Bahagia itu sederhana? Siapa yang bilang begitu? Faktanya bahagia tidak bisa di dapat dengan begitu mudah. Jika seseorang benar benar menginginkan dirinya bahagia, mereka harus benar-benar berusaha, dan tahan banting. Berdoa saja tidaklah cukup. Bahkan mungkin bagi sebagian orang, ada yang harus rela mengorbankan hal-hal yang ia sukai agar dirinya dapat bahagia.

Rabu, 27 Januari 2016

Aku adalah lelaki sejati.

*Aku adalah lelaki yang hidup tanpa arah. Hanya berdoa tanpa mau berusaha. Mampu merubah dunia tapi hanya diam dan melihat. Sejenak menangis dan tertawa pada diri sendiri.
*Aku duduk dan lesu. Menyesali semua hal yang seharusnya ku lakukan. Meratapi kepergian diriku sendiri. Berpaling darimu.
*Hujan semakin deras. Sejenak aku berpikir ini hanya akan menambah kejenuhanku saja. Namun kenyataan memang tak pernah berubah. Saat aku keluar dan basah kuyup, saat itulah aku tahu hujan mampu menggantikan air mata yang tak pernah keluar.

*Kemarin aku sadar. Tidak ada gunanya aku menyesali perbuatanku. Tetapi hari ini, kubuka semua puisi yang pernah kutulis untukmu. Ribuan pesan tiap harinya yang terkirim di antara kita. Dan aku menyimpulkan, setiap detik aku menjadi lebih bahagia dengan penyesalan ini.
*Aku tak peduli seberapa besar perjuangan hidupku. Seberapa jauh aku harus berlari. Seberapa tinggi aku harus terbang. Suatu saat nanti, aku pasti akan menemukan mu lagi.

Masa lalu memang takkan pernah terjadi lagi. Tetapi masa lalu akan menjadikan ku lebih kuat. Bagaimana aku harus melakukan hal-hal yang tak pernah ku ketahui. Bagaimana aku harus menyimpulkan semua keadaan yang tak pernah menghentikan langkah ku untuk menemukan mu.

*Aku bukanlah seorang yang hebat. Yang aku bisa hanyalah menulis rangkaian kata yang tak pernah berarti di matamu. Pagi, siang, sore, malam. Ku habiskan semua kertas dan tinta yang ku punya. Aku tidak pernah berharap ini akan membuat mu kembali. Aku hanya ingin menjadi lebih baik dari hari ke hari. Yang terpenting adalah, aku ingin menjadi lebih baik karena mu.

*Aku adalah lelaki sejati. Yang berdiri tegak disaat kau tak ada. Yang terus berusaha disaat asa mulai memudar. Aku adalah lelaki perkasa. Tak pernah mengenal apa itu tangis kepedihan untuk cinta.

Ku dengar kau bernyanyi "We are never ever ever gettin' back together" untuk ku. Tak perlu kau berdendang pun aku tahu. "Kita takkan pernah kembali bersama". Tetapi setidaknya aku tetap menjadi semakin lebih baik meskipun itu tanpamu.

Kita bertemu diliputi kenyamanan. Bersama dan larut dalam percintaan. Dan aku tak mau berakhir dengan kebencian. Aku bersumpah akan mengubah jalan perpisahan kita menjadi lebih indah.

Aku adalah lelaki sejati. Aku adalah lelaki perkasa. Meski aku bukanlah seorang yang hebat tetapi tetap saja akulah yang mampu membuatmu tersenyum dan tertawa seperti dulu. Yang akan membuat ku perlahan menemukan arah hidup ku.